” Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan diantara kamu dan berperang sebelum penaklukan(Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya dari pada orang-orang yang menginfakkan dan berperang setelah itu.” (QS Al Hadid 10)
Banyak nikmat Allah Subhanallahu wata’ala kepada hambanya. Nikmat tanpa pernah kita sadari, nikmat tidak pernah bisa kita untuk membalas dengan cara apapun kecuali senantiasa puji syukur kita ucapkan tanpa henti.
Sesungguhnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah atas nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepadanya dan untuk apa ia pergunakan nikmat-nikmat tersebut. Dalam sebuah hadist disebutkan : dari Ibny Umar R.A, dari Ibnu Mus”ud R.A, dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: ”Tidak akan bergeser kaki seorang anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabbnya hingga ia ditanya lima perkara: tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana dia dapatkan dan kemana ia belanjakan dan apa yang telah dia kerjakan terhadap (ilmu) yang telah ia ketahui.” (shahih At Tirmidzi nomor 2416)
Apapun yang kita lakukan dan apapun yang diberikan oleh Allah kepada kita , semua itu kelak akan dipertimbangkan dan dipertanggungjawabkan, entah baik buruknya suatu hal yang kita lakukan, kita kerjakan ada nilai tersendiri yang akan lebih mengangkat nikmat kita, karena nikmat Allah tiada terhitung. Sesungguhnya setiap sesuatu memiliki penerang, dan penerang hati adalah mengingat keagungan Rabbnya.
Seorang muslim dalam menjalani hidup ini berada antara nikmat Allah SWT yang wajib disyukuri, ujian Allah SWT yang wajib bersabar atasnya, dan dosa yang membutuhkan istighfar untuk menghapusnya. Sedangkan yang menghimpun dan memimpin ketiga-tiganya adalah dzikir kepada Allah SWT.
Dzikir adalah pengikat nikmat, penghapus kemarahan, pencegah kegundahan, menghidupkan hati, menolak setan dan mendatangkan keridhaan Allah SWT. Dzikir juga merupakan ibadah yang paling mudah dan agung, amal yang paling bersih dan mulia.
Akan tetapi berhati-hatilah pula terhadap kalian yang menjalankan nikmat dari Allah agar tidak salah menerima kenikmatan tersebut dengan cara bermegah-megahan. karenaAllah telah menetapkan surat At-Takasur tentang “Ancaman Allah terhadap orang-orang lalai dan bermegah-megahan.”
Didunia ini ada berbagai macam golongan dari kaum yang berkecukupan sampai yang paling serba kesederhanaan. Kenapa didunia ini terdapat pula banyak perbedaan , banyak orang yang mengeluh dengan keadaan, tak banyak pula yang mampu mensyukuri nikmat Allah. Ketika kita semua mendapati kenikmatan yang berlimpah ruah banyaknya, apa kita masih mampu mengingat Allah SWT, pernah terlintas sejenak dalam pikiran kita yang jernih dan tulus untuk membalas kebaikan Allah karena telah memberi kenikmatan terhadap kita. Tak sedikit pula diantara kita yang terbuai dalam kenikmatan penuh dengan bermagah-megahan.
Banyak saudara kita jauh disana yang terbuai dalam nikmat yang salah untuk dipergunakan, kesehariannya hanya berjalan untuk , keseharian hanya berjalan untuk mengejar kesejahteraan hidup mereka tanpa mempedulikan kewajibannya.
Menjalani hari demi hari dengan serba ada sesuai yang kita inginkan serasa hidup kita tanpa masalah dan beban sama sekali. Tapi apa yang bisa kita berikan kepada Allah SWT untuk membalas semua nikmat yang akan kita pertanggungjawabkan nanti.
Sebanyak apapun harta, tahta, kejayaan yang kalian miliki semua itu hanyalah milik Allah yang dititipkan terhadap kalian. Jangan pernah sekalipun mendustakan Allah hanya untuk menambah kenikmatan yang tidak sepantasnya. Maka perbanyaklah amal baik untuk mendapat ridlo dari Allah SWT.
Segala sesuatu pada hakekatnya milik Allah maka janganlah kamu merasa berat menafkahkan harta dan rejekimu di jalan Allah SWT. Dalam surat Al Hadid ayat 10, Allah ta’ala telah menjelaskan “Dan mengapa kamu tidak menginfakkan hartamu di jalan Allah, padahal milik Allahlah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan ( hartanya di jalan Allah) diantara kamu dan berperang sebelum penaklukan (mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya dari pada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Dan Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. Dan Allah maha teliti apa yang kamu kerjakan.
Lumrah adanya bahwa amal sesorang manusia itu sulit untuk mencapai derajat paling tinggi. Sesungguhnya, Allah selalu member nikmat-Nya yang berlimpah kepada kita. Meski demikian , tiada satupun yang mampu membalasnya dengan memenuhi hak-hakNya, Allah berfirman: “Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghitungnya;sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Ibrahim:34).
Diriwayatkan bahwa Allah memiliki para malaikat yang senantiasa sujud kepada-Nya sejak awal diciptakan. Saat kiamat tiba, para malaikat tersebut akan mengangkat kepala mereka sambil berkata, “Maha suci Engkau, sungguh kami belum mampu beribadah kepadaMu dengan sebagaimana mestinya an kami belum menghargaiMu sepantasnya.”
Betapapun hebatnya seseorang dalam menjalankan ketaatan, tetap saja Allah mendahuluinya dengan nikmat yang tiada terhitung. Berapa banyak nikmat yang tidsak mampu disyukuri manusia. Kata-kata tidak akan sanggup mengucapkan semuanya. Berapa banyak pula nikmat yang tidak terlihat oleh manusia dan tidak disyukurinya. Semua materi didunia ini manjadi nikmat dari Allah bagi hamba-hambaNya, bagaimana mensyukuri nikmat Allah. Tiada seorangpun yang sanggup membalasnya setimpal dengan rasa syukur.
Penciptaan manusia bahkan merupakan sebuah nikmat sehingga manusia bisa mendengar, melihat dan hidup. Semua itu adalah dengan anugerah Allah, tanpa manusia mampu menghargai dengan sepantasnya.
Dan telah dijelaskan Allah pada firmanNya:
وَمَاقَدَرُواالله َحَقَّ قَدْرِهِئ
"Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya.”
Karena itu, penting sekali bagi seorang hamba untuk mendapatkan kasih sayang dari Allah sebagai tiket masuk surga.
Allah SWT senantiasa menganugerahkan kasih sayangnya kepada siapa saja dari hambaNya yang dikehendaki, hamba yang senantiasa dekat denganNya yaitu hak untuk memberi syafaat kepada orang-orang kurang amal ibadahnya unttuk meringankan beban hukuman mereka.
Ya Allah, dengan bekal ilmu pengetahuan ini semoga amalan amalan engkau terima dan kami semua mendapat syafaat dariMu. Dan lindungilah kami beserta saudara-saudara kami agar tak tersesat atas amanah nikmat yang Engkau berikan kepada kami. Aamiin ..
Wallahu ta’ala a’lam







0 comments:
Post a Comment