Persembahan Ala Jahiliyah
Menyembelih ternak untuk dipersembahkan kepada berhala juga tradisi Arab jahiliyah. Ketika menafsirkan firman Allah ‘Azza wa jalla:
“(Dan dikharamkan bagimu memakan) yang disembelih untuk berhala.” (QS Al Maidah 3)
Ibnu Katsier berkata, “Mujahid dan Ibnu Juraij menyatakan , “An-Nushubu(berhala-berhala) adalah bebatuan (yang disembah) disekitar Ka’bah. Menurut Ibnu Juraij berhala itu berjumlah 360 patung. Dahulu bangsa arab dimasa Jahiliyah melakukan penyembelihan binatang ternak disekelilingnya. Kemudian mereka memerciki patung yang menghadap Ka’bah dengan tetesandarah binatang sembelihan, dilanjutkan mengiris-iris daging dan meletakkannya diatas berhala itu.”
Hal serupa terjadi juga di Indonesia, seperti sesaji. Pandangan masyarakat tentang sesajen yang terjadi di sekitar masyarakat, khususnya yang terjadi didalam masyarakat yang masih mengandung adat istiadat yang sangat kental. sesajen mengandung arti pemberian sesajian-sesajian sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur terhadap semua yang terjadi dimasyarakat sesuai bisikan ghaib yang berasal dari paranormal atau tetuah-tetuah.Sesajen merupakan warisan budaya Hindu dan Budha yang biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan) dan lain-lain yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan. Seperti : Upacara menjelang panen yang mereka persembahkan kepada Dewi Sri (dewi padi dan kesuburan) yang mungkin masih dipraktekkan di sebagian daerah Jawa, upacara Nglarung mempersembahkan kepala kerbau (membuang kesialan) ke laut yang masih banyak dilakukan oleh mereka yang tinggal di pesisir pantai selatan pulau Jawa tepatnya di tepian Samudra Indonesia.
Sekilas mungkin ada anggapan bahwa udhiyah atau qurban sembelihan adalah tradisi yang dicangkok dari nenek moyang, atau malah dari tradisi Arab jahiliyah. Padahal faktanya tidaklah demikian. Meskipun ada kemiripan antara keduanya, namun sama sekali tak bisa dikatakan bahwa udhiyah adalah hasil kreasi dari sesaji yang dilakukan orang-orang musyrik. Bahkan sebenarnya qurban berupa sembelihan aslinya merupakan ciri khas ibadah ahli tauhid, dan merupakan sunnah, Nabiyullah Ibrahim yang memiliki brand imam muwahhidin, imam ahli tauhid. Justru kemudian diselewengkan oleh orang-orang musyrik Arab. Dimana mereka melakukan sembelihan dengan cara mereka sendiri, dan yang paling fatal mereka persembahkan untuk berhala. Amru bin Luhay adalah orang pertama yang membawa berhala ketanah arab setelah tadinya bersih dari berhala sejak nabi Ibrahim. Seperti yang diberitakan Nabi Muhammad SAW. “Aku melihat Amru bin Amir BIN Luhay al-Khuza’I menyeret ususnya di neraka, dan dialah yang pertama kali melakukan persembahan dan penyembahan terhadap patung.” (HR. Bukhori).
Qurban, Syiar Pengagungan.
Bahkan ibadah qurban adalah sunnah para nabi-nabi terdahulu. Ia menjadi syi’ar pengagungan sepanjang zaman Allah berfirman.
“ (Yaitu) orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami qurban yang di makan api “. Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka kenapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS. Ali Imran: 183)
Ibnu Al-Jauzy dalam tafsirnya Zaadul Masir menyebutkan, Ibnu Abbas berkata, “Ayat ini turun terkait dengan Ka’ab bin Asyraf, Malik bin Ash-Shaif, Huyai bin Akhthab dan segolongan orang Yahudi. Mereka mendatangi Rasulullah saw unntuk mengatakan,”Sesungguhnya Allah sudah memerintahkan kepada kami, agar kami tidak mengimani seorang rasul, yakni tidak membenarkan siapapun yang mengaku rasul hingga ia bisa menunjukkan qurban (cara berqurban nabi persembahan) yang dimakan api”
Masih di sumber yang sama disebutkan, Ibnu Qutaibah berkata, “Makna ‘al-Qurban adalah apa-apa yang dijadikan sebagai sarana taqorub (mendekatkan diri) kepada Allah, baik berupa sembelihan ataupun selainnya. Mereka meminta Nabi Muhammad SAW mendatangkan qurban karena hal itu merupakan sunanul anbiya’ al-mutaqoddimin, jalannya para nabi terdahulu, sedangkan turunnya api dari langit sebagai pertanda diterimanya qurban.”
Bahwa kemudian Nabi tidak melakukannya, itu karena Allah Mahatahu, tata cara berqurban tersebut tidak membuat mereka beriman. Seperti yang telah kaum yahudi lakukan terhadap para nabi yang pernah melakukannya. Namun ayat ini menunjukkan, bahwa qurban adalah jalan para nabi-nabi terdahulu.
Jauh sebelum itu, di awal-awal adanya manusia telah juga ada syari’at qurban Allah telah mengabarkan kisah dua putra Nabi Adam yang mempersembahkan qurban dalam firmanNya, ”Ceritakanlah kepada mereka kedua putra Adam (Habil dan Qabil) ketika keduanya menyajukan persembahan. Persembahan salah satu dari mereka berdua (Habil) diterima dan yang lainnya (Qabil) tidak diterima. Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti akan membunuhmu.” (Habil menjawab), “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al Maidah 27).
Syaikh as-Sa’di berkata, “Maksudnya, masing-masing dari keduanya mengeluarkan sesuatu dari harta miliknya untuk mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla.” Akan tetapi Allah menolak persembahan Qabil karena ia tidak ikhlas dalam mempersembahkannya. Al-khatib asy-Syarbani Rahimahumullah menerangkan makna ayat, “dan tidak siterima dari yang lain”, maksudnya adalah Qabil, karena persembahan yang dilakukannya tidak sesuai dengan ketentuan Allah azza wa jalla dan tidak ikhlas dalam persembahannya”.Karenanya, Allah memberikan penekanan di penghujung ayat di atas, bahwa Allah tidak menerima persembahan kecuali dasri orang-orang yang bertaqwa. Sebagaimana telah maklum bahwa diantara sifat paling menonjol orang-orang yang bertaqwa adalah ikhlas dalam beramal Karena Allah semata dan tunduk dengan syariatNya. Hal ini berlaku untuk segala bentuk persembahan dan ibadah kepada Allah.
Qurban adalah Ibadah yang diSyari’atkan.
Begitupun dengan udhiyah yang merupakan qurban berupa sembelihan hewan, ini adalah salah satu bentuk ibadah. Wajib ditujukan kepada Allah dan qurban dijalani sesuai dengan syari’at nabi (Rasulullah) SAW, ibadah ini mendatangkan pahala yang besar. Sebaliknya segala bentuk sembelihan yang ditujukan untuk persembahan kepada selainNya dan diluar cara berqurban sesuai yang disyari’atkan niscaya membuahkan dosa dan malapetaka. Tata cara berqurban menurut sunnah nabi Muhammad SAW insyaAllah akan kita post dilain kesempatan
Nabi Muhammad SAW bersabda,
وَلَعَنَ الله ُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِاللهِ
“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)
Bahkan, hanya dengan qurban seekor lalat, cukup untuk masuk ke dalam neraka. Sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat, “ Dari Thariq bin Syihab,(beliau menceritakan) bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka(para sahabat) bertanya, ‘bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berqurban (memberikan sesaji/persembahan) sesuatu untuk berhala tersebut. Merekapun berkata kepada salah satu diantara dua lelaki tersebut, “Berqurbanlah.” Maka dia menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk diqurbankan.” Maka mereka mengatakan berqurbanlah walau dengan seekor lalat.” Maka diapun berqurban dengan seekor lalat, sehingga merekapun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah dia masuk neraka. Dan merekapun mengatakan kepada seorang lainnya “Berqurbanlah.” Dia menjawab, Tidak pantas bagiku berqurban untuk sesuastu selain Allah azza wa jalla.” Maka merekapun memenggal lehernya, dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad Ibnu Abi Syaibah, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dari jalur Thariq bin Syihab).
Alangkah indahnya seorang muslim menjadikan motto dalam hidupnya,
إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, nusuk-ku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah, Robb semesta alam”.(QS Al An ‘am: 162).
Sedangkan makna nusuk adalah sembelihan atau qurban, yaitau melakukan takorrub (pendekatan diri) dengan cara menyembelih hewan sesuai dengan ketentuan syari’at. Wallahu a’lam.







0 comments:
Post a Comment