“Ingatlah! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan apabila segumpal daging itu buruk, maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah! Itulah hati.” (HR. Bukhori).
Sesungguhnya tugas hati itu tidak hanya sekedar memikirkan urusan duniawi, namun tugas hati yang lebih utama adalah membimbing jiwa dan raga menempuh perjalanan menuju Allah dan kampong akhirat.
Jalan yang lurus dan benar telah ditunjukkan melalui wahyu, Nabi dan Rasul serta para ulama. Ujian jiwa dan amalpun telah dibentangkan. Penghambat jalan yang ditempuh harus disingkirkan dengan kekuatan niat dan tekad sehingga tidak lagi dapat tergoda oleh hawa nafsu setan. Allah SWT telah mengingatkan dalam firmannya:
يَاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى اْلاَرْضِ حَلَلاً طَيِبًا وَّلاَ تَتَبِعُوْا خُطُوَ تِ الشَّيْطَنِ , اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوُمُّبِيْنٌ
“Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS Albaqarah :168).
Jangan sampai cahaya hati kian padam sehingga jalan menuju Allah (kebenaran) memjadi gelap dan tersesat. Karena apabila demikian, seorang hamba tak mungkin menemukan Tuhannya. Padahal kenikmatan yang paling lezat dan kesenangan yang sempurna adalah manakala berjumpa dengan Allah Azza wa jalla.
Ibnu Qayyim mengatakan : “Tiada kenikmatan, kelezatan, kesenangan dan kesempurnaan melainkan sengan mengetahui Allah dan mencintaiNya , senang berdekatan denganNya . inilah surga dunia baginya, sebagaimana dia tahu bahwa kenikmatan yang hakiki adalah kenikmatan di akhirat dan surga”.
Dengan demikian dia mempunyai dua surga, yakni surga dunia dan surga akhirat. Surga yang kedua ini tidak dimasuki sebelum dia memasuki surga yang pertama di dunia.
Agar bisa lancar melakukan perjalanan menuju Allah, maka syarat utama hendaklah mampu menghindari dan mengantisipasi berbagai penyakit hati yang dalam kasat mata seakan-akan bukan penyakit hati .
Adapun penyakit-penyaki hati yang harus dihindari antara lain:
-Pertama, terlalu banyak bercanda sesame teman.
Pergaulan dengan sesame teman itu dapat mempengaruhi seseorang menjdi lebih baik atau justru menjadi lebih buruk, sering kali terjaji bergaul ditengah masyasrakat menyebabkan hati lebih keras, timbul perselisihan, mendorong adanya iri hati dan sebagainya. Lalu terjadilah persilisihan dan perpecahan juga beban berat yang ditanggungnya.
Oleh sebab itu memilih teman dalam hidup bermasyarakat itu sangat penting. Salah memilih bisa saja sesseorang menjadi tersesat karena terbawa arus keburukan teman sepergaulan. Pilihlah teman yang baik berakhlak mulia. Janganlah memilih teman yang bersifat munafiq, karena teman yang seperti itu justru akan menimbulkan penyesaslan dikemudian hari. Dan lebih celaka lagi adalah jika hal itu terjadi setelah di akhirat, segabaimna firman Allah SWT berikut:
اَ ْلآَ خِلآًءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ اَلَّمُتَّقٍيْنٍ
“Teman teman akrab pada hari itu, sebagiannya menjadi musuh bgi sebagian yang lain, kecuali orang orang yang bertaqwa .” (QS Az Zukhruf: 67).
-Kedua, Panjang angan-angan.
Orang macam ini, mengira bahwa hidup di dunia ini begitu lama. Umur begitu panjang dan kematian masih sangat jauh. Mereka tidak sadar bahwa pikiran seperti ini justru termasuk golongan orang-orang yang bangkrut dalam hidupnya. Ibarat ia berlayar di lautan harapan, yang seolah-olah tidak pernah mencapai pantai tujuan. Lautan dianggapnya tak bertepi. Padahal segala sesuatu itu pasti akan berakhir. Namun bagi orang yang istiqomah, maka angan-angannya berkisar pada ilmu dan iman serta amal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Allah berfirman:
كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ 26 وَّيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَئلِ وَاْلاِكْرَامِ 27
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhannu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS.Ar Rahman :26-27).
Ketiga, menggantungkan nasib kepada selain Allah.
Ada orang berpendapat bahwa penyakit hati ini termasuk kekufuran yang tersembunyi (samar). Mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya kebiasaan ini justru termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya. Karena apabila mereka tidak segera sadar akan kesalahannya, lalu mohon ampun kepada Allah SWT, serta bertaubat (tidak mengulangi kesalahan yang sama), niscaya ia akan mendapat kehinaan disisiNya, sebagaimana difirmankan dalam Al Quran Surat Al Isra’ ayat 22 berikut ini:
لاَتَجْعَلْ مَعَ اللهِ اِلَئهًاأَخَرَفَتَقْعُدَمَذْمُوْمًامَّخْذُوْلاً
“Janganlah kamu adakan sesembahan yang lain disamping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (QS. Al Isra’ 22)
-Keempat, hidup hanya untuk makan dan minum.
Orang seperti ini yang dipikirkan hanyalah menuruti nafsunya sendiri, lebih mementingkan perutnya. Ia memanjakan diri dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang lazat-lezat, bahkan dengan kecenderungan yang berlebih-lebihan tanpa memikirkan akibatnya. Padahal Allah telah mengingatkan dalam firmanNya:
...وَّكُلُوْاوَاشْرَبُوْاوَلاَ تُسْرِفُوْا اِبَّهُ لاَ تُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A’raf :31)
“Janganlah kamu makan dan minum yang berlebih-lebihan, karena yang demikian dapat merusak kesehatan tubuh, menimbulkan penyakit, memberi kemalasan ketika ketika akan bersholat. Dan hendaklah bagimu bersikap sedang karena yang demikian akan membawa kebaikan pada tubuh, dan menjauhkan dari sikap berlebih-lebihan.” (HR. Bukhori)
-Kelima, banyak tidur.
Mengapa? Karena banyak tidur adalah perbuatan yang sia-sia. Tidur yang berlebihan menyebabkan malas dan lalai dalam melakukan kebaikan, terutama beribadah kepadaNya. Oleh karena itu orang yang hari-harinya lebih banyak tidur , hatinya akan menjadi mati dan otaknya sulit diajak berfikir. Untuk itu tidurlah sekedar kebutuhan menghilangkan lelah. Tubuh memang butuh istirahat, maka harus diistirahatkan dengan cara yang benar dn sehat. Tidur yang bermanfaat adalah tidur yang memang diperlukan oleh tubuh. Tidur pada awal malam lebih baik dan lebih bermanfaat. Orang-orang yang bertaqwa sedikit sekali tidur diwaktu malam. Sebagian waktu malam digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang banyak tidur, tidak termasuk golongan orang-orang bertaqwa. Perhatikan firman Allah yang artinya :
”Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (syurga) dan di mataair mataair, sambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). (QS Adz Dzariyat 15-18).
Wallahu ta’ala a’lam
Disadur dari lembar jumat At Taqwa.







0 comments:
Post a Comment