Tuesday, 22 September 2015

MUTIARA SANG WAKTU

“Demi masa. Sesungguhnya semua manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati supaya menaati nkebenaran dan supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3)


   
    Imam Syafi’I rahimahumullah mengatakan “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluqNya, kecuali hanya surat Al Ashr, niscaya sudah mencukupi bagi mereka.” Syaikh Atsaimin rahimahumuillah menjelaskan , “Maksud perkataan Imam Syafi’I  bahwa surat ini telah cukup bagi manusia, karena berisi dorongan agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah , dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud memberikan penjelasan khusus bahwa manusia cukup dengan surat ini tanpa syari’at lain.

    Seorang yang berfikir apabila mendengar atau membaca surat ini , maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan e,pat sifat yang disebutkan dalam surat ini, yaiut beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam menaati kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati untuk bersabar.  (Lihat Syarah Al Ushul Ast Tsalatshah, Syeikh Utsaimin hal 22)

    Imam Ath Thabrani rahimahumullah menyebutkan dalam kitabnya  Mu’jam Al Ausath, dari Ubaidillah bin Hisn, ia berkata, “Dulu para shahabat Rasulullah saw jika bertemu, tidaklah mereka berpisah kecuali salah satu dari mereka membacakan surat Al Ashr kepada yang lain (karena kandungannya yang sangat penting), kemudian mengucapkan salam”. (Sanadnya shahih, lihat Tafsir Ibnu Katsir IV/685).

Beberapa Peringatan yang Penting
    Diawal surat ini, Allah ta’ala bersumpah dengan masa/waktu . Didalam ilmu Ushul Tafsir, lafadz sumpah dalam AlQuran bermakna agungnya sesuatu yang digunakan untuk bersumpah dan pentingnya sesuatu yang menjadi sebab sumpah. (lihat Ushul Tafsir, Syaikh Utsaimin hal 56).

    Dari penjelasan tersebut menunukkan pentingnya waktu. Waktu atau umur adalah tempat seorang hamba beribadah kepada Allah. Sehingga mulianya seorang hamba disisi Allah, tergantung sejauh mana ia menjaga dan memanfaatkan waktu yang dimilikinya. Hendaknya kita mengingat sabda nabi saw , “Tidaklah bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya tentang lima perkara :  umurnya untuk apa ia gunakan , masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan  dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang ia perbuat dengan ilmu yang telah ia ketahui.” (HR . At Tirmidzi no.2416 disshahihkan oleh Syaikh Al Albani).

    Kemudian di ayat kedua, Allah menjelaskan behwa semua manusia berada dalam kerugian. Bisa jadi kerugian yang didapatkan bersifat mutlak, yaiut merugi di dunia dan di akhirat. Dan kehilangan kenikmatan serta diancam dengan balasan neraka. Dan bisa juga kerugian yang dirasaskan tidak mutlak, hanya dalam sebagian sisi saja. Semuanya akan merugi dan celaka kecuali seorang yang bersifat dengan empat sifat yang disebutkan pada ayat selanjutnya. (Lihat Tafsir Karimir Rohmaan, Syaikh Abdurrahman As Sa’di hal 893).

Beriman yang Dilandasi dengan Ilmu
    Sifat yang pertama adalah iman. Keimanan disini mencakup semua yang dapat mendekatkan diri kepada Allah berupa keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat. (Syaikh al Ushul Ats Tsalatsah hal 19).

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “..Hendaknya kalian beriman kepada Allah, para malaikatNya, para RasulNya dan hari Kiamat, dan kalian beriman kepada Taqdir yang baik maupun yang buruk..”. (HR muslim).
    Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan, “Iman tidak akan bisa diperoleh, kecuali dengan ilmu, (yaitu ilmu agama)”. (Tafsir Karimir Rahman hal.893).

Beramal Shalih
    Amal shalih mencakup semua perbuatan baik yang tampak maupun yang tersembunya, yang terkait dengan hak Allah maupun hak manusia, yang wajib maupun yang sunah .(Tafsir Karimir Rohmaan hal 893).

    Syarat  amalan dikatakan shalih yaitu apabila amal tersebut dikerjakan ikhlas karena Allah dan dikerjakan dengan mengikuti petunjuk rosulullah shalallahu alaihi wasalam.

    Dengan iman dan amal sholih, maka seorang hamba akan mendaptkan sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan, “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl 97).

Saling Menasehati dalam Kebenaran
    Seorang muslim tidak boleh mencukupkan diri dengan memperbaiki diri sendiri, tanpa menginginkan kebaikan untuk orang lain. Rasulullah saw bersabda  “Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperolah sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhori)

    Hendaknya seorang muslim saling menasehati kepada saudaranya muslim yang lain, untuk selalu menetapi syariat Allah dan untuk mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Tentunya dengan nasehat yang baik sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Bersabar di Jalan Allah
    Sifat yang terakhir adalah berssabar atas gangguan yang didaspatkan ketika mengajak orang lain kepada kebenaran. Allah ta’ala berfirman, “Wahai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang  demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah” (QS. Luqman 17)

    Maka dengan dua sifat yang pertama (iman/ilmu dan amal), seorang hamba telah memperbaiki dirinya sendiri. Adapun dengan dua sifat yang terakhir (dakwah dan sabar), seorang hamba dapat memperbaiki orang lain. Dan dengan memiliki keempat sifat tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar (Tafsir Karimir Rohmaan hal 893).
Wallahu a’lam bisaahawab.

Disadur dari le,bar jumat At Taqwa Oleh : Ferdiansyah A.


0 comments:

Post a Comment

Followers

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More