Friday, 25 September 2015

QURBAN UNTUK DEWA ATAU KARENA ALLAH?


Dahulu kala dari zaman ke zaman, persembahan yang diperuntukkan sesuatu yang diagungkan selalu ada. Ada yang berqurban  buah-buahan atau hasil bumi , atau binatang sembelihan. Baik sembelihan binatang bahkan mengorbankan manusia. Beragam pula obyek yang diberi persembahan. Banyak kitab sejarah menyebutkan, Abdul mutalib, kakek Rasulullah SAW pernah bernadzar, jika diberi 10 anak laki-laki akan menyembelih salah satunya sebagai qurban. Lalu jatuhlah undian kepada Abdullah, yang pada akhirnya dialah ayah Rasulullah SAW. Mendengar hal itu kaum Quraisy mencegah Abdul Mutalib untuk melakukannya khawatir akan diikuti generasi berikutnya. Akhirnya Abdul Mutalib menebusnya dengan 100 ekor onta sebagai ganti.

Persembahan Ala Jahiliyah
    Menyembelih ternak untuk dipersembahkan kepada berhala juga tradisi Arab jahiliyah. Ketika menafsirkan firman Allah ‘Azza wa jalla:
    “(Dan dikharamkan bagimu memakan) yang disembelih untuk berhala.” (QS Al Maidah 3)
    Ibnu Katsier berkata, “Mujahid dan Ibnu Juraij menyatakan , “An-Nushubu(berhala-berhala) adalah bebatuan (yang disembah) disekitar Ka’bah. Menurut Ibnu Juraij berhala itu berjumlah 360 patung. Dahulu bangsa arab dimasa Jahiliyah melakukan penyembelihan binatang ternak disekelilingnya. Kemudian mereka memerciki patung yang menghadap Ka’bah dengan tetesandarah binatang sembelihan, dilanjutkan mengiris-iris daging dan meletakkannya diatas berhala itu.”

    Hal serupa terjadi juga di Indonesia, seperti sesaji. Pandangan masyarakat tentang sesajen yang terjadi di sekitar masyarakat, khususnya yang terjadi didalam masyarakat yang masih mengandung adat istiadat yang sangat kental. sesajen mengandung arti pemberian sesajian-sesajian sebagai tanda penghormatan atau rasa syukur terhadap semua yang terjadi dimasyarakat sesuai bisikan ghaib yang berasal dari paranormal atau tetuah-tetuah.Sesajen merupakan warisan budaya Hindu dan Budha yang biasa dilakukan untuk memuja para dewa, roh tertentu atau penunggu tempat (pohon, batu, persimpangan) dan lain-lain yang mereka yakini dapat mendatangkan keberuntungan dan menolak kesialan. Seperti : Upacara menjelang panen yang mereka persembahkan kepada Dewi Sri (dewi padi dan kesuburan) yang mungkin masih dipraktekkan di sebagian daerah Jawa, upacara Nglarung mempersembahkan kepala kerbau (membuang kesialan) ke laut yang masih banyak dilakukan oleh mereka yang tinggal di pesisir pantai selatan pulau Jawa tepatnya di tepian Samudra Indonesia.

    Sekilas mungkin ada anggapan bahwa udhiyah atau qurban sembelihan adalah tradisi yang dicangkok dari nenek moyang, atau malah dari tradisi Arab jahiliyah. Padahal faktanya tidaklah demikian. Meskipun ada kemiripan antara keduanya, namun sama sekali tak bisa dikatakan bahwa udhiyah adalah hasil kreasi dari sesaji yang dilakukan orang-orang musyrik. Bahkan sebenarnya qurban berupa sembelihan aslinya merupakan ciri khas ibadah ahli tauhid, dan merupakan sunnah, Nabiyullah Ibrahim yang memiliki brand imam muwahhidin, imam ahli tauhid. Justru kemudian diselewengkan oleh orang-orang musyrik Arab. Dimana mereka melakukan sembelihan dengan cara mereka sendiri, dan yang paling fatal mereka persembahkan untuk berhala. Amru bin Luhay adalah orang pertama yang membawa berhala ketanah arab setelah tadinya bersih dari berhala sejak nabi Ibrahim. Seperti yang diberitakan Nabi Muhammad SAW.   “Aku melihat Amru bin Amir BIN Luhay al-Khuza’I  menyeret ususnya di neraka, dan dialah yang pertama kali melakukan persembahan dan penyembahan terhadap patung.” (HR. Bukhori).

Qurban, Syiar Pengagungan.
Bahkan ibadah qurban adalah sunnah para nabi-nabi terdahulu. Ia menjadi syi’ar pengagungan sepanjang zaman Allah berfirman.
“ (Yaitu) orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada kami, supaya kami jangan beriman kepada seseorang rasul, sebelum dia mendatangkan kepada kami qurban yang di makan api “. Katakanlah: “Sesungguhnya telah datang kepada kamu beberapa orang rasul sebelumku membawa keterangan-keterangan yang nyata dan membawa apa yang kamu sebutkan, maka kenapa kamu membunuh mereka jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS. Ali Imran: 183)

Ibnu Al-Jauzy dalam tafsirnya Zaadul Masir menyebutkan, Ibnu Abbas berkata, “Ayat ini turun terkait dengan Ka’ab bin Asyraf, Malik bin Ash-Shaif, Huyai bin Akhthab dan segolongan orang Yahudi. Mereka mendatangi Rasulullah saw unntuk mengatakan,”Sesungguhnya Allah sudah memerintahkan kepada kami, agar kami tidak mengimani seorang rasul, yakni tidak membenarkan siapapun yang mengaku rasul hingga ia bisa menunjukkan qurban (cara berqurban nabi persembahan) yang dimakan api”
Masih di sumber yang sama disebutkan, Ibnu Qutaibah berkata, “Makna ‘al-Qurban  adalah apa-apa yang dijadikan sebagai sarana taqorub (mendekatkan diri) kepada Allah, baik berupa sembelihan ataupun selainnya. Mereka meminta Nabi Muhammad SAW mendatangkan qurban karena hal itu merupakan  sunanul anbiya’ al-mutaqoddimin, jalannya para nabi terdahulu, sedangkan turunnya api dari langit sebagai pertanda diterimanya qurban.”

Bahwa kemudian Nabi tidak melakukannya, itu karena Allah Mahatahu, tata cara berqurban tersebut tidak membuat mereka beriman. Seperti yang telah kaum yahudi lakukan terhadap para nabi yang pernah melakukannya. Namun ayat ini menunjukkan, bahwa qurban adalah jalan para nabi-nabi terdahulu.
Jauh sebelum itu, di awal-awal adanya manusia telah juga ada syari’at qurban Allah telah mengabarkan kisah dua putra Nabi Adam yang mempersembahkan qurban dalam firmanNya, ”Ceritakanlah kepada mereka kedua putra Adam (Habil dan Qabil) ketika keduanya menyajukan persembahan. Persembahan salah satu dari mereka berdua (Habil) diterima dan yang lainnya (Qabil) tidak diterima. Ia (Qabil) berkata, “Aku pasti akan membunuhmu.” (Habil menjawab), “Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang bertaqwa.” (QS Al Maidah 27).

Syaikh as-Sa’di berkata, “Maksudnya, masing-masing dari keduanya mengeluarkan sesuatu dari harta miliknya untuk mendekatkan diri kepada Allah azza wa jalla.” Akan tetapi Allah menolak persembahan Qabil karena ia tidak ikhlas dalam mempersembahkannya. Al-khatib asy-Syarbani Rahimahumullah menerangkan makna ayat, “dan tidak siterima dari yang lain”, maksudnya adalah Qabil, karena persembahan yang dilakukannya tidak sesuai dengan ketentuan Allah azza wa jalla dan tidak ikhlas dalam persembahannya”.Karenanya, Allah memberikan penekanan di penghujung ayat di atas, bahwa Allah tidak menerima persembahan kecuali dasri orang-orang yang bertaqwa. Sebagaimana telah maklum bahwa diantara sifat paling menonjol orang-orang yang bertaqwa adalah ikhlas dalam beramal Karena Allah semata dan tunduk dengan syariatNya. Hal ini berlaku untuk segala bentuk persembahan dan ibadah kepada Allah.

Qurban adalah Ibadah yang diSyari’atkan.
    Begitupun dengan udhiyah yang merupakan qurban berupa sembelihan hewan, ini adalah salah satu bentuk ibadah. Wajib ditujukan kepada Allah dan qurban dijalani sesuai dengan syari’at nabi (Rasulullah) SAW, ibadah ini mendatangkan pahala yang besar. Sebaliknya segala bentuk sembelihan yang ditujukan untuk persembahan kepada selainNya dan diluar cara berqurban sesuai yang disyari’atkan niscaya membuahkan dosa dan malapetaka. Tata cara berqurban menurut sunnah nabi Muhammad SAW insyaAllah akan kita post dilain kesempatan
    Nabi Muhammad SAW bersabda,

وَلَعَنَ الله ُ مَنْ ذَبَحَ لِغَيْرِاللهِ
“Dan Allah melaknat orang yang menyembelih untuk selain Allah.” (HR. Muslim)

    Bahkan, hanya dengan qurban seekor lalat, cukup untuk masuk ke dalam neraka. Sebagaimana tersebut dalam sebuah riwayat, “ Dari Thariq bin Syihab,(beliau menceritakan) bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada seorang lelaki yang masuk surga gara-gara seekor lalat dan ada pula lelaki lain yang masuk neraka gara-gara lalat.” Mereka(para sahabat) bertanya, ‘bagaimana itu bisa terjadi wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, “Ada dua orang lelaki yang melewati daerah suatu kaum yang memiliki berhala. Tidak ada seorangpun yang diperbolehkan melewati daerah itu melainkan dia harus berqurban (memberikan sesaji/persembahan) sesuatu untuk berhala tersebut. Merekapun berkata kepada salah satu diantara dua lelaki tersebut, “Berqurbanlah.” Maka dia menjawab, “Aku tidak punya apa-apa untuk diqurbankan.” Maka mereka mengatakan berqurbanlah walau dengan seekor lalat.” Maka diapun berqurban dengan seekor lalat, sehingga merekapun memperbolehkan dia untuk lewat dan meneruskan perjalanan. Karena sebab itulah dia masuk neraka. Dan merekapun mengatakan kepada seorang lainnya “Berqurbanlah.” Dia menjawab, Tidak pantas bagiku berqurban untuk sesuastu selain Allah azza wa jalla.” Maka merekapun memenggal lehernya, dan karena itulah dia masuk surga.” (HR. Ahmad Ibnu Abi Syaibah, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah dari jalur Thariq bin Syihab).
Alangkah indahnya seorang muslim menjadikan motto dalam hidupnya,

إِنَّ صَلاَتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Katakanlah: sesungguhnya sholatku, nusuk-ku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah, Robb semesta alam”.(QS Al An ‘am: 162).

Sedangkan makna nusuk adalah sembelihan atau qurban, yaitau melakukan takorrub (pendekatan diri) dengan cara menyembelih hewan sesuai dengan ketentuan syari’at. Wallahu a’lam.

Tuesday, 22 September 2015

WASPADALAH PENYAKIT HATI

“Ingatlah! Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal daging. Apabila segumpal daging itu baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan apabila segumpal daging itu buruk, maka buruk pula seluruh tubuh. Ketahuilah! Itulah hati.” (HR. Bukhori).

    Sesungguhnya tugas hati itu tidak hanya sekedar memikirkan urusan duniawi, namun tugas hati yang lebih utama adalah membimbing jiwa dan raga menempuh perjalanan menuju Allah dan kampong akhirat.

    Jalan yang lurus dan benar telah ditunjukkan melalui wahyu, Nabi dan Rasul serta para ulama. Ujian jiwa dan amalpun telah dibentangkan. Penghambat  jalan yang ditempuh harus disingkirkan dengan kekuatan niat dan tekad sehingga tidak lagi dapat tergoda oleh hawa nafsu setan.  Allah SWT telah mengingatkan dalam firmannya:

يَاَيُّهَا النَّاسُ كُلُوْا مِمَّا فِى اْلاَرْضِ حَلَلاً طَيِبًا وَّلاَ تَتَبِعُوْا خُطُوَ تِ الشَّيْطَنِ , اِنَّهُ لَكُمْ عَدُوُمُّبِيْنٌ
    “Janganlah kamu  mengikuti langkah-langkah syaitan, karena sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”. (QS Albaqarah :168).

    Jangan sampai cahaya hati kian padam sehingga jalan menuju Allah (kebenaran) memjadi gelap dan tersesat. Karena apabila demikian, seorang hamba tak mungkin  menemukan Tuhannya. Padahal kenikmatan yang paling lezat dan kesenangan yang sempurna adalah manakala berjumpa dengan Allah Azza wa jalla.

    Ibnu Qayyim mengatakan : “Tiada kenikmatan, kelezatan, kesenangan dan kesempurnaan melainkan sengan mengetahui Allah dan mencintaiNya , senang berdekatan denganNya . inilah surga dunia baginya, sebagaimana dia tahu bahwa kenikmatan yang hakiki adalah kenikmatan di akhirat dan surga”.

    Dengan demikian dia mempunyai dua surga, yakni surga dunia dan surga akhirat. Surga yang kedua ini tidak dimasuki sebelum dia memasuki surga yang pertama di dunia.

    Agar bisa lancar melakukan perjalanan menuju Allah, maka syarat utama hendaklah mampu menghindari dan mengantisipasi berbagai penyakit hati yang dalam kasat mata seakan-akan bukan penyakit hati .

    Adapun penyakit-penyaki hati yang harus dihindari antara lain:

-Pertama, terlalu banyak bercanda sesame teman.
    Pergaulan dengan sesame teman itu dapat mempengaruhi seseorang menjdi lebih baik atau justru menjadi lebih buruk, sering kali terjaji bergaul ditengah masyasrakat menyebabkan hati lebih keras, timbul perselisihan, mendorong adanya iri hati dan sebagainya. Lalu terjadilah persilisihan dan perpecahan juga beban berat yang ditanggungnya.

    Oleh sebab itu memilih teman dalam hidup bermasyarakat itu sangat penting. Salah memilih bisa saja sesseorang menjadi tersesat karena terbawa arus keburukan teman sepergaulan.  Pilihlah teman yang baik berakhlak mulia. Janganlah memilih teman yang bersifat munafiq, karena teman yang seperti itu justru akan menimbulkan penyesaslan dikemudian hari. Dan lebih celaka lagi adalah jika hal itu terjadi setelah di akhirat, segabaimna firman Allah SWT berikut:

اَ ْلآَ خِلآًءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلاَّ اَلَّمُتَّقٍيْنٍ
“Teman teman akrab pada hari itu, sebagiannya menjadi musuh bgi sebagian yang lain, kecuali orang orang yang bertaqwa .” (QS Az Zukhruf: 67).

-Kedua, Panjang angan-angan.
Orang macam ini, mengira  bahwa hidup di dunia ini begitu lama. Umur begitu panjang  dan kematian masih sangat jauh. Mereka tidak sadar bahwa pikiran seperti ini justru termasuk golongan orang-orang yang bangkrut dalam hidupnya. Ibarat ia berlayar di lautan harapan, yang seolah-olah tidak pernah mencapai pantai tujuan. Lautan dianggapnya tak bertepi. Padahal segala sesuatu itu pasti akan berakhir. Namun bagi orang yang istiqomah, maka angan-angannya berkisar pada ilmu dan iman serta amal yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Allah berfirman:

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ 26 وَّيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَئلِ وَاْلاِكْرَامِ 27
“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhannu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” (QS.Ar Rahman :26-27).

Ketiga, menggantungkan nasib kepada selain Allah.
Ada orang berpendapat bahwa penyakit hati ini termasuk kekufuran yang tersembunyi (samar). Mereka tidak menyadari bahwa sesungguhnya kebiasaan ini justru termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya. Karena apabila mereka tidak segera sadar akan kesalahannya, lalu mohon ampun kepada Allah SWT, serta bertaubat (tidak mengulangi kesalahan yang sama), niscaya ia akan mendapat kehinaan disisiNya, sebagaimana difirmankan dalam Al Quran Surat Al Isra’ ayat 22 berikut ini:

لاَتَجْعَلْ مَعَ اللهِ اِلَئهًاأَخَرَفَتَقْعُدَمَذْمُوْمًامَّخْذُوْلاً
“Janganlah kamu adakan sesembahan yang lain disamping Allah, agar kamu tidak menjadi tercela dan tidak ditinggalkan (Allah).” (QS. Al Isra’ 22)

-Keempat, hidup hanya untuk makan dan minum.
Orang seperti ini yang dipikirkan hanyalah menuruti nafsunya sendiri, lebih mementingkan perutnya. Ia memanjakan diri dengan mengkonsumsi makanan dan minuman yang lazat-lezat, bahkan dengan kecenderungan yang berlebih-lebihan tanpa memikirkan akibatnya. Padahal Allah telah mengingatkan dalam firmanNya:

...وَّكُلُوْاوَاشْرَبُوْاوَلاَ تُسْرِفُوْا اِبَّهُ لاَ تُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A’raf :31)

    “Janganlah kamu makan dan minum yang berlebih-lebihan, karena yang demikian dapat merusak kesehatan tubuh, menimbulkan penyakit, memberi kemalasan ketika ketika akan bersholat. Dan hendaklah bagimu bersikap sedang karena yang demikian akan membawa kebaikan pada tubuh, dan menjauhkan dari sikap berlebih-lebihan.” (HR. Bukhori)

-Kelima, banyak tidur.
    Mengapa? Karena banyak tidur adalah perbuatan yang sia-sia. Tidur yang berlebihan menyebabkan malas dan lalai dalam melakukan kebaikan, terutama beribadah kepadaNya. Oleh karena itu orang yang hari-harinya lebih banyak tidur , hatinya akan menjadi mati dan otaknya sulit diajak berfikir. Untuk itu tidurlah sekedar kebutuhan menghilangkan lelah. Tubuh memang butuh istirahat, maka harus diistirahatkan dengan cara yang benar dn sehat. Tidur yang bermanfaat adalah tidur yang memang diperlukan oleh tubuh. Tidur pada awal malam lebih baik dan lebih bermanfaat. Orang-orang yang bertaqwa sedikit sekali tidur diwaktu malam. Sebagian waktu malam digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu, orang yang banyak tidur, tidak termasuk golongan orang-orang bertaqwa. Perhatikan firman Allah yang artinya :
”Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (syurga) dan di mataair mataair, sambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum  itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam, dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah). (QS Adz Dzariyat 15-18).

Wallahu ta’ala a’lam

Disadur dari lembar jumat At Taqwa.












MUTIARA SANG WAKTU

“Demi masa. Sesungguhnya semua manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati supaya menaati nkebenaran dan supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al Ashr: 1-3)

   
    Imam Syafi’I rahimahumullah mengatakan “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluqNya, kecuali hanya surat Al Ashr, niscaya sudah mencukupi bagi mereka.” Syaikh Atsaimin rahimahumuillah menjelaskan , “Maksud perkataan Imam Syafi’I  bahwa surat ini telah cukup bagi manusia, karena berisi dorongan agar memegang teguh agama Allah dengan beriman, beramal sholih, berdakwah kepada Allah , dan bersabar atas semua itu. Beliau tidak bermaksud memberikan penjelasan khusus bahwa manusia cukup dengan surat ini tanpa syari’at lain.

    Seorang yang berfikir apabila mendengar atau membaca surat ini , maka ia pasti akan berusaha untuk membebaskan dirinya dari kerugian dengan cara menghiasi diri dengan e,pat sifat yang disebutkan dalam surat ini, yaiut beriman, beramal shalih, saling menasehati dalam menaati kebenaran (berdakwah) dan saling menasehati untuk bersabar.  (Lihat Syarah Al Ushul Ast Tsalatshah, Syeikh Utsaimin hal 22)

    Imam Ath Thabrani rahimahumullah menyebutkan dalam kitabnya  Mu’jam Al Ausath, dari Ubaidillah bin Hisn, ia berkata, “Dulu para shahabat Rasulullah saw jika bertemu, tidaklah mereka berpisah kecuali salah satu dari mereka membacakan surat Al Ashr kepada yang lain (karena kandungannya yang sangat penting), kemudian mengucapkan salam”. (Sanadnya shahih, lihat Tafsir Ibnu Katsir IV/685).

Beberapa Peringatan yang Penting
    Diawal surat ini, Allah ta’ala bersumpah dengan masa/waktu . Didalam ilmu Ushul Tafsir, lafadz sumpah dalam AlQuran bermakna agungnya sesuatu yang digunakan untuk bersumpah dan pentingnya sesuatu yang menjadi sebab sumpah. (lihat Ushul Tafsir, Syaikh Utsaimin hal 56).

    Dari penjelasan tersebut menunukkan pentingnya waktu. Waktu atau umur adalah tempat seorang hamba beribadah kepada Allah. Sehingga mulianya seorang hamba disisi Allah, tergantung sejauh mana ia menjaga dan memanfaatkan waktu yang dimilikinya. Hendaknya kita mengingat sabda nabi saw , “Tidaklah bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat, sampai ia ditanya tentang lima perkara :  umurnya untuk apa ia gunakan , masa mudanya untuk apa ia habiskan, hartanya dari mana ia dapatkan  dan untuk apa ia belanjakan, dan apa yang ia perbuat dengan ilmu yang telah ia ketahui.” (HR . At Tirmidzi no.2416 disshahihkan oleh Syaikh Al Albani).

    Kemudian di ayat kedua, Allah menjelaskan behwa semua manusia berada dalam kerugian. Bisa jadi kerugian yang didapatkan bersifat mutlak, yaiut merugi di dunia dan di akhirat. Dan kehilangan kenikmatan serta diancam dengan balasan neraka. Dan bisa juga kerugian yang dirasaskan tidak mutlak, hanya dalam sebagian sisi saja. Semuanya akan merugi dan celaka kecuali seorang yang bersifat dengan empat sifat yang disebutkan pada ayat selanjutnya. (Lihat Tafsir Karimir Rohmaan, Syaikh Abdurrahman As Sa’di hal 893).

Beriman yang Dilandasi dengan Ilmu
    Sifat yang pertama adalah iman. Keimanan disini mencakup semua yang dapat mendekatkan diri kepada Allah berupa keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat. (Syaikh al Ushul Ats Tsalatsah hal 19).

    Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda, “..Hendaknya kalian beriman kepada Allah, para malaikatNya, para RasulNya dan hari Kiamat, dan kalian beriman kepada Taqdir yang baik maupun yang buruk..”. (HR muslim).
    Syaikh Abdurrahman As Sa’di menjelaskan, “Iman tidak akan bisa diperoleh, kecuali dengan ilmu, (yaitu ilmu agama)”. (Tafsir Karimir Rahman hal.893).

Beramal Shalih
    Amal shalih mencakup semua perbuatan baik yang tampak maupun yang tersembunya, yang terkait dengan hak Allah maupun hak manusia, yang wajib maupun yang sunah .(Tafsir Karimir Rohmaan hal 893).

    Syarat  amalan dikatakan shalih yaitu apabila amal tersebut dikerjakan ikhlas karena Allah dan dikerjakan dengan mengikuti petunjuk rosulullah shalallahu alaihi wasalam.

    Dengan iman dan amal sholih, maka seorang hamba akan mendaptkan sebagaimana yang Allah ta’ala firmankan, “Barang siapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An Nahl 97).

Saling Menasehati dalam Kebenaran
    Seorang muslim tidak boleh mencukupkan diri dengan memperbaiki diri sendiri, tanpa menginginkan kebaikan untuk orang lain. Rasulullah saw bersabda  “Tidak sempurna keimanan salah seorang diantara kalian, hingga ia senang apabila saudaranya memperolah sesuatu yang juga ia senangi.” (HR. Bukhori)

    Hendaknya seorang muslim saling menasehati kepada saudaranya muslim yang lain, untuk selalu menetapi syariat Allah dan untuk mentaati perintah-perintahNya dan menjauhi larangan-laranganNya. Tentunya dengan nasehat yang baik sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Bersabar di Jalan Allah
    Sifat yang terakhir adalah berssabar atas gangguan yang didaspatkan ketika mengajak orang lain kepada kebenaran. Allah ta’ala berfirman, “Wahai anakku, dirikanlah sholat dan suruhlah manusia mengerjakan yang baik dan cegahlah mereka dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang  demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan Allah” (QS. Luqman 17)

    Maka dengan dua sifat yang pertama (iman/ilmu dan amal), seorang hamba telah memperbaiki dirinya sendiri. Adapun dengan dua sifat yang terakhir (dakwah dan sabar), seorang hamba dapat memperbaiki orang lain. Dan dengan memiliki keempat sifat tersebut, manusia dapat selamat dari kerugian dan mendapatkan keuntungan yang besar (Tafsir Karimir Rohmaan hal 893).
Wallahu a’lam bisaahawab.

Disadur dari le,bar jumat At Taqwa Oleh : Ferdiansyah A.


Followers

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More